Mengenal Cage Free Egg dan Perubahan Cara Ayam Dipelihara di Indonesia
Dari perubahan cara memelihara ayam hingga meningkatnya permintaan konsumen, sistem cage free mulai membuka babak baru bagi industri telur di Indonesia.
Telur mungkin menjadi salah satu bahan pangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari hari. Namun, di balik satu butir telur terdapat proses panjang mengenai bagaimana ayam dipelihara hingga akhirnya menghasilkan produk yang sampai ke meja makan.
Salah satu sistem yang mulai berkembang di Indonesia adalah cage free, yaitu sistem pemeliharaan ayam tanpa kandang baterai individual. Berbeda dari anggapan bahwa ayam dibiarkan begitu saja, sistem ini tetap menggunakan kandang dan fasilitas yang terukur untuk memenuhi kebutuhan ayam sekaligus menjaga produktivitas peternakan.
“Kita menyeimbangkan antara welfare ayam dan produktivitas,” ujar perwakilan Indonesia Cage Free Association atau ICFA dalam pemaparannya.
Perkembangan cage free di Indonesia salah satunya didorong oleh meningkatnya permintaan dari perusahaan multinasional yang memiliki komitmen terhadap penggunaan telur cage free. Sejumlah grup perhotelan seperti Marriott, Hyatt, dan Accor telah memiliki target penggunaan telur cage free dalam rantai pasok mereka.
Komitmen tersebut kemudian menciptakan kebutuhan terhadap peternak lokal yang mampu menyediakan telur dengan sistem pemeliharaan serupa. Seiring waktu, sejumlah perusahaan lokal dan regional juga mulai mengikuti langkah tersebut.
Dari kebutuhan inilah ekosistem cage free perlahan terbentuk. Pada 2024, ICFA didirikan sebagai wadah bagi para peternak untuk saling berbagi pengalaman, menghadapi tantangan teknis, serta membangun industri cage free secara berkelanjutan.
Bagi para peternak, sistem cage free menghadirkan tantangan yang berbeda dari peternakan konvensional. Ayam memiliki ruang untuk bergerak, bertengger, dan melakukan perilaku alaminya, tetapi pengelolaannya tetap harus terkontrol agar kesehatan ayam dan produktivitas telur tetap terjaga. Aspek kredibilitas juga menjadi perhatian penting. Secara fisik, telur cage free tidak mudah dibedakan dari telur konvensional. Karena itu, konsumen membutuhkan kepercayaan bahwa telur yang mereka beli memang berasal dari peternakan yang menerapkan sistem cage free.
Untuk mendukung hal tersebut, ICFA memfasilitasi peternak dalam memperoleh sertifikasi, salah satunya melalui Certified Humane. Bagi peternak kecil dan menengah dengan populasi di bawah 10.000 ekor, ICFA menyediakan fasilitasi sertifikasi secara gratis selama dua tahun pertama. Dalam sekitar dua tahun perkembangannya, jumlah anggota ICFA telah mencapai 58 peternak yang tersebar di 17 provinsi. Sebanyak 20 peternak di antaranya telah tersertifikasi Certified Humane.
Menariknya, alasan peternak memilih cage free tidak hanya berkaitan dengan peluang bisnis. Sekitar 60 persen anggota disebut memilih sistem tersebut karena alasan animal welfare. Sebagian bahkan sebelumnya merupakan peternak konvensional yang kemudian terdorong mencari sistem pemeliharaan yang dianggap lebih baik bagi ayam. Perubahan sistem tersebut juga membawa konsekuensi terhadap harga. Biaya produksi telur cage free cenderung lebih tinggi sehingga produk biasanya memiliki harga premium.
Namun, sejumlah peternak mulai memberikan nilai tambah lain melalui produk dengan kandungan omega 3, vitamin D, dan berbagai karakteristik lainnya. Di sisi lain, industri masih menghadapi tantangan dalam memperkenalkan cage free kepada konsumen. Survei ICFA terhadap sekitar 1.200 responden menunjukkan hanya 27,9 persen yang pernah mendengar sekaligus benar benar memahami konsep cage free. Sebagian lainnya pernah mendengar, tetapi belum memahami apa artinya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa meningkatkan awareness saja belum cukup. Konsumen juga perlu memahami bagaimana ayam dipelihara dan mengapa sistem tersebut memiliki harga yang berbeda.
Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari perkembangan industri. ICFA menjalankan kampanye Telur Baik melalui media sosial dan berbagai aktivitas langsung di supermarket. Edukasi dilakukan melalui booth, pemberian tester telur, hingga kolaborasi dengan chef dan brand peternak. Aktivasi tersebut telah dilakukan di sejumlah retail, termasuk Farmers Market Margocity Depok, Pondok Indah Mall, dan Mall Kelapa Gading. Konsumen tidak hanya diajak mengenal istilah cage free, tetapi juga diperkenalkan pada cerita di balik produk dan peternak yang memproduksinya.
Pada akhirnya, perkembangan cage free di Indonesia bukan sekadar tentang mengganti sistem kandang. Ia juga membawa percakapan baru mengenai animal welfare, transparansi produksi, dan bagaimana konsumen menentukan pilihan pangan. Satu butir telur mungkin terlihat sama ketika berada di rak supermarket. Namun, proses di baliknya bisa sangat berbeda. Bagi industri cage free, tantangan berikutnya adalah membuat semakin banyak konsumen memahami perbedaan tersebut dan melihat nilai di balik setiap telur yang mereka pilih.