Share
IBW 2026: Dr. dr. Dhelya Widasmara, Membawa Perubahan Lewat Edukasi Kulit dan Inovasi Kesehatan
Hasya Notarbartolo
21 April 2026

Di balik nama Dr. dr. Dhelya Widasmara, Sp. DVE, Subsp. DT, MMRS, tersimpan perjalanan panjang yang membuktikan bahwa seorang perempuan bisa menjadi banyak hal sekaligus; dokter, peneliti, pendidik, entrepreneur, hingga edukator publik yang konsisten mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya kesehatan kulit.


Bagi dr. Dhelya, kulit bukan sekadar lapisan terluar tubuh. Ia melihatnya sebagai sebuah jendela—cerminan kondisi kesehatan internal sekaligus identitas sosial seseorang. Dari pemahaman inilah rasa ingin tahunya berkembang; bagaimana sesuatu yang terlihat di permukaan dapat menjadi petunjuk krusial atas apa yang terjadi di dalam raga. Dalam perjalanannya, ia memaknai dermatologi sebagai jembatan antara ilmu medis dan kepercayaan diri manusia.

Dr. dr. Dhelya Widasmara

Pendekatannya terasa istimewa karena caranya memandang kulit secara holistik. Tidak hanya dari sisi klinis, tetapi juga dari aspek sosial dan emosional. Baginya, kulit sering menjadi impresi pertama yang membentuk cara dunia memandang seseorang, sekaligus memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. “Dermatologi tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi juga membantu pasien merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri,” ujarnya. Perspektif inilah yang menjadi fondasi dalam setiap langkahnya.

Di luar ruang praktik dan dunia akademik, dr. Dhelya juga aktif membangun jembatan melalui dunia digital. Ia melihat media sosial sebagai peluang besar untuk menghadirkan edukasi kesehatan yang lebih luas, sekaligus ruang untuk meluruskan misinformasi. “Media sosial bukan hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga cara untuk bisa lebih dekat dengan masyarakat,” katanya. Dengan pendekatan yang komunikatif, ia berhasil menyederhanakan topik medis yang kompleks menjadi narasi yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Dr. dr. Dhelya Widasmara

Namun, dunia digital tidak selalu ramah—baik bagi kulit maupun bagi mereka yang mencoba memahaminya. Misinformasi tersebar luas, bahkan bisa berdampak berbahaya. Salah satu mitos yang sering ditemui adalah anggapan bahwa gatal atau luka di area genital selalu disebabkan oleh kebersihan yang buruk, padahal bisa menjadi tanda kondisi yang lebih serius dan membutuhkan penanganan medis tanpa stigma.

Begitu pula dengan kepercayaan bahwa semakin banyak produk skincare yang digunakan, semakin baik hasilnya. “Penggunaan terlalu banyak produk sekaligus justru dapat menyebabkan iritasi pada kulit,” jelasnya.

Di tengah tren yang serba instan, dr. Dhelya mengingatkan pentingnya kesabaran dan konsistensi. Setiap orang memiliki kebutuhan kulit yang berbeda, sehingga pendekatan yang tepat tidak bisa disamaratakan. Ia pun menekankan kebiasaan paling mendasar yang sering diabaikan: menjaga kebersihan kulit. “Meskipun terdengar sederhana, menjaga kebersihan kulit secara konsisten merupakan fondasi penting dari perawatan kulit yang sehat,” ujarnya.

Dr. dr. Dhelya Widasmara

Yang membuat dr. Dhelya semakin menonjol adalah keberaniannya menaruh perhatian pada isu-isu kesehatan yang sering terabaikan, seperti leprosy atau kusta, serta proses demyelination. Baginya, justru karena topik-topik ini kurang mendapat sorotan, maka penting untuk diangkat. Ia menyoroti bahwa kusta masih memiliki angka kasus yang cukup tinggi di Indonesia, dengan dampak yang tidak hanya fisik, tetapi juga sosial akibat stigma yang melekat.

“Stigma ini sering kali justru lebih berbahaya daripada penyakitnya sendiri,” katanya. Banyak pasien enggan mencari pertolongan karena takut dikucilkan. Melalui penelitiannya tentang kerusakan saraf dan potensi biomarker seperti Nerve Growth Factor (NGF), ia berupaya mewujudkan deteksi dini untuk mencegah disabilitas permanen.

Dr. dr. Dhelya Widasmara

Dari kepedulian inilah lahir KUESTA, aplikasi kolaboratif dengan komunitas RALEPRA yang diluncurkan pada Hari Kusta Sedunia 2025. Inovasi ini menjadi solusi digital untuk skrining awal yang dapat diakses siapa saja, kapan saja.

Melalui KUESTA, ia ingin menunjukkan bahwa di era modern, penanganan penyakit tidak bisa lagi hanya bergantung pada sistem konvensional yang menunggu pasien datang. Aplikasi ini hadir sebagai alat multifungsi untuk manajemen kusta, memungkinkan pengguna melakukan skrining gejala awal melalui kuesioner sekaligus mengakses materi edukasi berupa video dan artikel ilmiah yang tepercaya.

Menjalani begitu banyak peran—dokter, peneliti, dosen, entrepreneur, hingga edukator publik—tentu bukan hal yang sederhana. Bagi Dr. Dhelya, kuncinya ada pada niat dan manajemen waktu. “Ketika setiap peran dijalankan dengan niat yang kuat, kita akan lebih mudah menjaga semangat dan komitmen,” ungkapnya. Dengan disiplin mengatur prioritas dan terus kembali pada tujuan awal, ia menjaga semua peran itu tetap berjalan seimbang.

Dr. dr. Dhelya Widasmara

Ia juga percaya bahwa tantangan yang dihadapi perempuan di dunia medis bukanlah penghalang, melainkan ruang untuk bertumbuh. Menurutnya, kekuatan perempuan terletak pada perpaduan antara empati dan pendekatan yang holistik. “Banyak perempuan memiliki kepekaan sehingga pendekatan kepada pasien menjadi lebih menyeluruh—tidak hanya fokus pada diagnosis dan terapi, tetapi juga pada bagaimana pasien merasa didengar,” jelasnya.

Sebagai salah satu peraih penghargaan Indonesia’s Beautiful Women 2026, definisi kecantikan baginya pun melampaui fisik. Ia memaknai “beautiful woman” sebagai perempuan yang mengenal dirinya, percaya pada kemampuannya, dan mampu memberi dampak bagi orang lain. “Perempuan yang cantik adalah perempuan yang percaya pada dirinya sendiri dan yakin bahwa dirinya dapat memberikan manfaat bagi orang lain.”

Dr. dr. Dhelya Widasmara

Pada akhirnya, perjalanan dr. Dhelya bukan sekadar tentang pencapaian, melainkan tentang jejak yang ia tinggalkan. Ia berharap namanya kelak dikenang bukan hanya sebagai seorang dokter atau peneliti, tetapi sebagai bukti bahwa perempuan dapat menjalani berbagai peran dengan penuh makna. “Jika perjalanan ini dapat memberikan inspirasi bagi orang lain, maka itu sudah menjadi warisan yang sangat berarti bagi saya.”

Di situlah letak pencapaian terbesarnya—bukan hanya pada apa yang ia lakukan, tetapi pada bagaimana ia mengubah cara orang memandang kesehatan, ilmu pengetahuan, dan bahkan diri mereka sendiri.