Mengenal dr. Yesi Oktavia, sosok di balik pendekatan pediatri holistik yang menempatkan koneksi manusia sebagai inti penyembuhan anak.
Seorang dokter yang benar-benar mendengarkan, konselor yang memberdayakan, sekaligus ibu yang memahami—dr. Yesi Oktavia percaya bahwa obat terbaik bagi seorang anak selalu berakar pada koneksi manusia.
Dedikasinya terhadap dunia anak tidak lahir dari satu keputusan besar, melainkan dari rangkaian momen kecil yang perlahan mengubah arah hidupnya. Di awal karier sebagai dokter umum, ia sering menangani bayi-bayi yang lahir dalam kondisi rentan; mereka yang tidak langsung menangis, dan harus berjuang untuk menarik napas pertama. Di tengah momen-momen rapuh itu, ada kesadaran yang tumbuh diam-diam.
“Saya mulai menyadari bahwa momen-momen paling awal dalam hidup bisa membentuk begitu banyak aspek masa depan seorang anak,” refleksinya. “Apa yang terjadi di awal tidak hanya memengaruhi kondisi saat ini, tetapi juga perkembangan jangka panjang.” Kesadaran itu membawanya menekuni pediatri, sebuah bidang di mana ia merasa bisa melakukan lebih dari sekadar mengobati. Ia ingin hadir bagi keluarga, mendukung orang tua, dan membantu anak-anak bertumbuh secara optimal. Namun, ia juga memahami bahwa ilmu medis hanyalah satu bagian dari keseluruhan cerita.

Beberapa pelajaran paling bermakna justru tidak ia dapatkan dari bangku sekolah kedokteran, melainkan dari anak-anak itu sendiri. Melihat bagaimana mereka menghadapi rasa sakit dan ketidakpastian, ia mengerti bahwa penyembuhan bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga kehadiran.
“Bagi anak, merasa aman sama pentingnya dengan menerima perawatan,” katanya. “Kehadiran yang tenang dan empati yang tulus bisa sepenuhnya mengubah cara mereka merasakan sakit.” Dari situlah filosofi kerjanya berkembang menjadi lebih holistik—mengutamakan empati, kemampuan mendengar, dan koneksi manusia, sama pentingnya dengan keahlian medis.
Pendekatan ini kemudian membawanya melampaui praktik pediatri konvensional. Di awal praktiknya, ia menyadari adanya kekhawatiran yang berulang di kalangan ibu baru: proses menyusui yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Bertekad untuk membantu, ia mendalami ilmu laktasi hingga menjadi konselor bersertifikat.
“Yang awalnya hanya rasa ingin tahu, perlahan menjadi panggilan,” ujarnya. “Saya menyadari betapa pentingnya peran seorang ibu dan proses menyusui dalam perkembangan anak.” Baginya, mendukung ibu sama pentingnya dengan merawat anak—membangun kepercayaan diri, rasa aman, dan fondasi yang kuat bagi keduanya.

Pendekatannya bahkan meluas hingga ke praktik yang sering terpinggirkan dalam dunia medis modern, seperti pijat bayi. Bagi dr. Yesi, ini bukan sekadar ritual menenangkan, melainkan bentuk interaksi yang bermakna bagi kesejahteraan fisik dan emosional. “Sentuhan memiliki kekuatan luar biasa,” jelasnya. “Ini dapat meningkatkan sirkulasi, memperbaiki kualitas tidur, dan menenangkan bayi—tetapi yang terpenting, mempererat ikatan antara orang tua dan anak.”
Alih-alih memisahkan perannya sebagai dokter anak, konselor laktasi, dan instruktur pijat bayi, ia justru melihat semuanya sebagai satu kesatuan yang saling terhubung. “Kesehatan anak tidak bisa dipahami hanya dari satu sudut pandang,” katanya. “Diperlukan pendekatan yang utuh: medis, nutrisi, dan emosional.”
Di luar pekerjaannya, keseimbangan lain pun ia jalani di rumah. Sebagai dokter, istri, dan ibu dari dua anak, ia harus menghadapi jadwal yang tidak menentu sambil tetap berusaha hadir sepenuhnya untuk keluarga. “Keseimbangan bukan berarti melakukan semuanya dengan sempurna,” ujarnya. “Melainkan tentang hadir sepenuhnya dalam peran apa pun yang sedang dijalani saat itu.” Dengan komunikasi yang terbuka dan sistem dukungan yang kuat, ia menemukan ritme yang bermakna, meski tidak selalu sempurna.

Di tengah lanskap digital yang bergerak cepat, ia melihat adanya peluang sekaligus tanggung jawab. Telemedicine dan aplikasi kesehatan membuat layanan medis lebih mudah diakses, serta mendorong orang tua untuk lebih terinformasi dan terlibat. “Layanan kesehatan kini tidak lagi sekadar reaktif, tetapi semakin kolaboratif dan preventif,” ungkapnya. Namun, ia tetap berpegang pada hal yang paling esensial: “Teknologi dapat meningkatkan akses, tetapi tidak akan pernah menggantikan kepercayaan, empati, dan koneksi manusia.”
Penghargaan yang ia terima di Indonesia’s Beautiful Women 2026 Awards ini bukanlah garis akhir, melainkan sebuah penanda perjalanan. “Ini bukan sekadar pencapaian pribadi,” katanya. “Ini mencerminkan komitmen dan konsistensi di balik setiap langkah.” Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi pengingat untuk terus bertumbuh, tetap membumi, dan terus memberi dampak—satu anak, satu keluarga, satu momen dalam satu waktu.




