Kak Kev NPD, Widi Vierratale, dan Patricia Gouw Selebrasi Kultur Denim di Levi’s® Women’s Experience: FOR EVERY ORIGINAL
Di tengah denyut Shibuya yang tak pernah benar-benar berhenti, denim menemukan bahasa baru untuk berbicara tentang identitas. Melalui Levi’s® Women’s Experience: FOR EVERY ORIGINAL, Levi’s® menghadirkan sebuah pop-up imersif yang mempertemukan heritage, fashion, kultur, dan kebebasan berekspresi dalam satu pengalaman yang terasa begitu relevan dengan semangat Tokyo.
Digelar di salah satu pusat fashion, musik, dan youth culture paling dinamis di Jepang, pengalaman ini membawa perjalanan panjang Levi’s® ke dalam konteks yang lebih kontemporer. Pengunjung diajak menyelami berbagai sisi brand, mulai dari Lady Levi’s® Heritage yang menyoroti hubungan panjang Levi’s® dengan perempuan, area yang didedikasikan untuk ROSÉ dan campaign storytelling, hingga ruang customization yang memungkinkan setiap pengunjung memberikan interpretasi personal pada denim mereka.
“Pengunjung diajak mengeksplorasi berbagai sisi Levi’s®, mulai dari Lady Levi’s® Heritage yang menyoroti hubungan panjang Levi’s® dengan perempuan, area ROSÉ dan campaign storytelling, hingga ruang customization untuk memberikan sentuhan personal pada denim. Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana Levi’s® terus berevolusi melintasi kultur, identitas, dan generasi,” ujar Stiffen Andika, Country Marketing Head PT Levi Strauss Indonesia.
Dari Indonesia, tiga figur dengan karakter yang berbeda—Ka Kev NPD, Widi Vierratale, dan Patricia Gouw—turut hadir untuk merasakan pengalaman tersebut secara langsung. Ketiganya membawa cara pandang masing-masing mengenai denim, namun bertemu pada satu gagasan yang sama: bahwa originalitas bukanlah sebuah formula, melainkan keberanian untuk menjadikan gaya sebagai perpanjangan dari diri sendiri.

Bagi Ka Kev NPD, perjalanan ke Tokyo menjadi kesempatan untuk melihat denim sebagai bagian dari cultural code yang terus berevolusi. Dekat dengan dunia fashion commentary dan budaya anak muda, ia memandang Levi’s® bukan semata sebagai sebuah label denim dengan sejarah panjang, melainkan sebagai medium yang terus menemukan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Dari pop-up hingga kunjungannya ke Levi’s® store di Jepang, Ka Kev melihat bagaimana heritage, storytelling, customization, dan retail experience dapat dirangkai menjadi pengalaman fashion yang lebih personal. Di tengah energi Shibuya, originalitas baginya hadir melalui keberanian untuk melakukan remix dan reinterpretasi—mengambil sesuatu yang telah dikenal, lalu menjadikannya milik sendiri.
Jika Ka Kev menemukan originalitas melalui kultur dan reinterpretasi, Widi Vierratale membacanya melalui musik dan ekspresi diri. Sebagai musisi yang terbiasa berpindah antara panggung dan keseharian, Widi melihat pakaian sebagai bagian dari karakter yang dibawa seseorang.
“Sebagai musisi, aku selalu merasa pakaian adalah bagian dari cara kita membawa diri, baik di panggung maupun dalam keseharian. Levi’s® memberi ruang untuk itu. Denim bisa terasa santai, bisa terasa bold, bisa terasa feminin, bisa juga terasa powerful, tergantung bagaimana kita memakainya,” ungkapnya.
Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu kekuatan denim: kemampuannya untuk bertransformasi mengikuti pemakainya. Sebuah siluet yang sama dapat menghadirkan karakter yang sepenuhnya berbeda ketika dikenakan oleh pribadi yang berbeda pula.
Hal tersebut terasa semakin kuat melalui kehadiran Patricia Gouw, yang membawa energi bold, playful, dan penuh percaya diri ke dalam pengalaman FOR EVERY ORIGINAL. Dengan gaya personalnya yang ekspresif, Patricia memperlihatkan bagaimana denim dapat menjadi kanvas untuk bereksperimen—dari casual dan edgy hingga tampilan yang lebih elevated.
“Buat aku, personal style itu sebenarnya sesimpel pakai sesuatu yang bikin kita pede dan feel like ourselves. Nggak harus selalu ikut tren, nggak harus sama kayak orang lain. Levi’s® juga punya spirit itu. Satu denim bisa dipakai dengan banyak cara, tergantung siapa yang pakai—and I think that’s the fun part. Karena pada akhirnya, yang bikin look kita original itu bukan bajunya aja, tapi personality yang kita bawa,” tuturnya.
Di sinilah FOR EVERY ORIGINAL menemukan maknanya. Originalitas tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Terkadang, ia hadir ketika seseorang mengambil sesuatu yang familiar dan memberinya karakter baru. Heritage dapat ditafsirkan kembali, denim dapat dipadukan tanpa batas, dan sebuah look dapat berubah menjadi sangat personal melalui cara seseorang membawanya.
Dari Shibuya hingga Jakarta, perjalanan Ka Kev NPD, Widi Vierratale, dan Patricia Gouw memperlihatkan bagaimana Levi’s® terus bergerak bersama kultur dan generasi. Di tangan masing-masing individu, denim menjadi lebih dari sekadar pakaian—ia menjadi medium untuk menyuarakan karakter, merayakan kebebasan berekspresi, dan menemukan definisi personal tentang gaya.
Sebab pada akhirnya, menjadi original bukan tentang mengikuti sebuah formula. Ia adalah tentang menemukan cara sendiri untuk mengenakan sesuatu, menghidupkannya dengan kepribadian, dan menjadikannya benar-benar milik kita




