Berlari tidak selalu tentang melarikan diri. Bagi sebagian orang, setiap langkah justru menjadi perjalanan untuk kembali menghadapi diri dan kehidupan.
Ada alasan mengapa seseorang memilih berlari ketika hidup terasa terlalu penuh. Bukan selalu untuk mengejar kecepatan, mencatat personal best, atau sekadar mengumpulkan medali. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan ruang untuk bernapas. Di titik itulah lari menemukan makna yang lebih personal.
Gagasan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam buku Lari Dari Kenyataan karya Yasha, yang mengumpulkan berbagai cerita manusia di balik aktivitas berlari. Buku ini melihat lari dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan: sebagai ruang untuk menghadapi tekanan, mencari ketenangan, memproses kehilangan, hingga menemukan kembali arah.
“Lari itu bukan untuk kabur, tapi lari itu untuk kembali,” menjadi salah satu kalimat yang merepresentasikan gagasan utama tersebut.

Bagi Yasha, perjalanan di dunia lari sendiri bukan sesuatu yang baru. Lebih dari 18 tahun ia berkecimpung dalam running culture dan menjadi salah satu co-founder IndoRunners sejak 2009. Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai aktivitas komunitas, termasuk IndoRunners Runiversity yang lahir pada 2015.
Selama bertahun-tahun berada di tengah komunitas, Yasha melihat bahwa alasan seseorang berlari tidak pernah benar-benar sama. Ada yang datang karena ingin sehat, ada yang mencari ketenangan, dan ada pula yang menjadikan lari sebagai bentuk coping mechanism.
Namun, ada satu hal yang menurutnya tidak boleh dilewatkan: awareness.
Lari dapat menjadi bentuk pelarian yang sehat selama dilakukan dengan kesadaran. Sebaliknya, ketika seseorang mulai mengabaikan tubuh, pekerjaan, kehidupan sosial, hingga kebutuhan istirahat demi terus berlari, aktivitas tersebut dapat kehilangan keseimbangannya.

Karena itu, mindful running bukan hanya tentang bagaimana seseorang berlari, tetapi juga tentang memahami mengapa ia berlari.
Salah satu cerita yang hadir dalam buku tersebut datang dari Indra. Ia mulai berlari setelah seorang psikolog menyarankannya untuk mencoba aktivitas tersebut. Awalnya, ia bahkan merasa tidak membutuhkan lari. Namun, dua tahun kemudian, olahraga tersebut justru menjadi bagian dari prosesnya menemukan ketenangan.
Lari memberinya ruang untuk mengatur kembali dirinya. Bahkan ketika harus melakukan perjalanan pekerjaan ke Moscow selama tiga minggu, target maraton tetap menjadi bagian dari rencananya.
“I’m… I do. I run. This is my escape,” ungkap Indra.
Cerita lain datang dari Helen, yang mulai berlari ketika pandemi Covid-19 membuat gym tempatnya berolahraga harus tutup. Dari sebuah alternatif, lari kemudian berkembang menjadi bagian penting dari kesehariannya. Ia juga membagikan perjalanan personalnya dalam menurunkan berat badan dari 140 kilogram.
Sementara itu, Dita melihat lari sebagai cara untuk tetap mindful di tengah tuntutan kehidupan. Setelah pernah bekerja di dunia korporasi dan kemudian berada di lingkungan pemerintahan, ia menemukan bahwa lari bukan hanya membantunya menjaga kesehatan, tetapi juga memperluas relasi dan memberi ruang untuk menata kembali pikirannya.
“Larinya juga bukan hanya lari dari kenyataan, tapi justru lari menuju ke kenyataan,” ujarnya.

Yasha membagikan perspektifnya tentang running culture dan berbagai cerita personal di balik buku Lari Dari Kenyataan. Pada akhirnya, Lari Dari Kenyataan tidak sekadar berbicara mengenai olahraga. Ia berbicara mengenai manusia dan alasan-alasan yang sering kali tidak terlihat di balik setiap langkah. Sebab, di balik seseorang yang berlari setiap pagi, mengejar jarak, atau menyelesaikan satu kilometer demi satu kilometer, mungkin ada cerita yang sedang ia bawa.
Ada yang sedang meninggalkan sesuatu. Ada yang sedang mengejar sesuatu. Ada pula yang hanya ingin berhenti sejenak, sebelum akhirnya kembali. Dan mungkin, itulah esensi sebenarnya dari berlari: bukan seberapa jauh kita mampu pergi, tetapi siapa diri kita ketika akhirnya kembali.





