Melalui Timeless Silhouettes, SANIHARTO dan AlvinT melihat kembali bentuk-bentuk yang familiar, craftsmanship yang diwariskan, serta cara hidup yang terus berubah untuk menemukan relevansinya dalam kehidupan masa kini.
Ada sesuatu yang menarik dari bentuk-bentuk yang sudah dikenal. Ketika ditempatkan dalam konteks yang berbeda, bentuk tersebut dapat kembali menemukan makna dan relevansinya. Gagasan inilah yang menjadi dasar Timeless Silhouettes, koleksi terbaru SANIHARTO bersama desainer Indonesia Alvin Tjitrowirjo dari AlvinT.
Diperkenalkan di SANIHARTO Showroom, Jakarta, pada 28 Oktober 2026, Timeless Silhouettes menjadi kolaborasi ketiga antara SANIHARTO dan Alvin Tjitrowirjo. Sebelumnya, keduanya telah menghadirkan New Age Luxury pada 2017 dan Objects of Living pada 2023.
Di balik koleksi ini terdapat sebuah pertanyaan sederhana: apa yang ingin kita bawa ke masa depan?
Seiring dengan cara hidup yang terus berkembang, Timeless Silhouettes melihat kembali objek, bentuk, dan cara membuat sesuatu yang tetap memiliki tempat dalam kehidupan. Bagi Alvin, sesuatu yang timeless bukan berarti harus terus berada dalam bentuk yang sama.
“Dengan koleksi ini, kami ingin mengatakan bahwa bergerak maju tidak selalu berarti meninggalkan sesuatu. Terkadang, kita hanya perlu menentukan apa yang layak untuk dibawa bersama,” ujar Alvin Tjitrowirjo.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai bentuk furnitur yang familiar, tetapi hadir dengan proporsi baru. Pola lattice khas Asia diterapkan melalui detail marquetry, tradisi woodworking diwujudkan melalui bentuk-bentuk sculptural, sementara konsep modular merespons cara manusia menggunakan dan menghuni rumah yang semakin fleksibel.

Salah satu karya dalam koleksi ini adalah Sarra, yang mengambil inspirasi dari kehadiran elemental sebuah totem. Bentuk sculptural-nya dibangun melalui susunan volume kayu yang ditumpuk, menciptakan siluet yang memiliki karakter kuat.
Bagian atas Sarra menggunakan permukaan lacquer yang memberikan kontras dengan serat kayu alami. Perpaduan antara permukaan yang polished dan karakter kayu tersebut menghadirkan pengalaman visual sekaligus taktil yang menjadi bagian dari identitas desainnya.
Sarra menunjukkan bagaimana material kayu dapat menjadi lebih dari sekadar elemen pembentuk furnitur. Melalui susunan bentuk dan detail permukaan, material tersebut justru menjadi bagian utama dari ekspresi desain.

Referensi terhadap pola tradisional Asia hadir melalui Matra, sebuah dining table yang mengambil inspirasi dari bahasa geometris Asian latticework.
Permukaan tabletop yang luas menggunakan teknik marquetry untuk menciptakan pola yang tersusun secara ritmis. Detail tersebut kemudian dipadukan dengan kaki meja yang dipahat sehingga memberikan kesan arsitektural sekaligus kokoh.
Melalui Matra, teknik marquetry yang menjadi salah satu keahlian SANIHARTO diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih kontemporer. Pola yang terinspirasi dari masa lalu tidak sekadar direproduksi, tetapi diolah kembali melalui material dan proporsi.

Sementara itu, Dawan hadir sebagai sebuah keluarga seating yang mempertemukan bentuk upholstery yang generous dengan struktur kayu yang presisi.
Keluarga Dawan terdiri dari Dawan Modular Sofa, club armchair, dining armchair, dan bar stool. Masing-masing membawa dialog yang sama antara kelembutan dan struktur, tetapi digunakan dalam berbagai momen kehidupan.
Dawan Modular Sofa menjadi bagian utama dari keluarga ini. Konfigurasinya dapat disusun dalam berbagai bentuk sehingga dapat menyesuaikan dengan ruang, kesempatan, maupun cara seseorang berkumpul.
Konsep modular tersebut menjadi respons terhadap cara manusia menghuni rumah yang semakin fleksibel. Furnitur tidak lagi harus memiliki satu fungsi atau satu susunan tetap, tetapi dapat mengikuti kebutuhan dan aktivitas penggunanya.

Kesederhanaan menjadi gagasan utama pada Walden Lounge Chair. Terinspirasi dari Walden karya Henry David Thoreau, kursi ini merefleksikan gagasan tentang kesederhanaan dan intentional living.
Bentuk wooden archetype yang familiar kemudian disederhanakan menjadi garis-garis yang lebih terukur dan elemen-elemen yang esensial. Struktur kayu dibiarkan terekspos dan dipadukan dengan upholstery yang lembut.
Walden memperlihatkan bagaimana bentuk yang sederhana dapat tetap memiliki karakter. Alih-alih menambahkan elemen yang berlebihan, desain ini justru menemukan kekuatannya melalui hubungan antara struktur kayu, upholstery, dan garis yang dipertimbangkan secara matang.
Keempat karya tersebut memiliki referensi dan karakter yang berbeda. Namun, semuanya dipersatukan oleh keahlian SANIHARTO dalam woodworking, marquetry, finishing, serta furniture manufacturing.
Timeless Silhouettes bukanlah upaya untuk mengulang bentuk-bentuk dari masa lalu. Koleksi ini justru mengeksplorasi bagaimana siluet yang familiar dan cara pembuatan yang telah dikenal dapat memperoleh relevansi baru melalui material, proporsi, dan cara penggunaannya.
Bagi SANIHARTO, koleksi ini juga menjadi kelanjutan dari komitmen perusahaan terhadap kolaborasi. Sejak 2015, SANIHARTO telah bekerja bersama desainer dan creative practices dari Indonesia maupun internasional, termasuk Francine Denise, Mudita Lestari, Alvin Tjitrowirjo dari AlvinT, Sammy H. Syamsulhadi dari SHS & Associates dan SHS Living, Hans Susantio dari VINDATE Interior, P Club Group Singapore, Budi Kurniawan, dan Vivianne Faye.
Kolaborasi tersebut tidak ditujukan untuk menciptakan satu bahasa desain yang sama. Setiap kolaborasi justru mempertemukan perspektif kreatif yang berbeda dengan pengetahuan SANIHARTO mengenai material, craftsmanship, engineering, dan manufacturing.

“Alvin memiliki kreativitas dan perspektif desain yang khas, yang sejalan dengan visi SANIHARTO untuk mempertahankan heritage kami sekaligus terus berkembang melalui desain yang timeless. Melalui Timeless Silhouettes, kami mempertemukan visi kreatif Alvin dengan keahlian craftsmanship kami untuk menciptakan desain yang tetap relevan lintas generasi,” ujar Merysia Enggalhardjo, CEO SANIHARTO.
Didirikan pada 1990, SANIHARTO berkembang dari keahlian awal dalam sliced wood veneer, bentwood, dan tabletop marquetry menjadi manufaktur furnitur Indonesia yang melayani proyek luxury hospitality dan residential di Indonesia maupun internasional.
Designer collections kemudian menjadi bagian dari perjalanan tersebut, membawa kemampuan manufaktur SANIHARTO ke dalam dialog dengan desain kontemporer sekaligus berkontribusi terhadap perkembangan furniture dan craftsmanship Indonesia.
Sementara itu, Alvin Tjitrowirjo merupakan product designer Indonesia dengan kiprah global dan karya-karya yang telah mendapatkan berbagai penghargaan. Selama lebih dari satu dekade, ia mengembangkan karya melalui dua brand dan perusahaan, alvinT dan Shape of Thoughts, dengan perhatian terhadap desain Indonesia, craft, budaya, serta ekosistemnya.
Melalui kolaborasi bersama Alvin Tjitrowirjo dan perusahaannya, visi tersebut diterjemahkan ke dalam desain kontemporer yang tetap memiliki daya tahan, menggunakan material alami Indonesia dan memperhatikan perjalanan sebuah produk sejak proses produksi hingga hadir dalam kehidupan penggunanya.

Pada akhirnya, Timeless Silhouettes kembali membawa SANIHARTO dan AlvinT pada percakapan yang sama: melihat ke masa depan sambil mempertanyakan apa yang layak untuk dibawa bersama.
Sebab, desain yang timeless bukan berarti berhenti berubah. Ia justru dapat terus menemukan bentuk dan relevansinya ketika kehidupan di sekitarnya ikut berkembang.




